JATENG - Imigrasi bersama Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB) menginisiasi "Pagar Digital", sistem pengawasan keimigrasian berbasis drone di wilayah perbatasan.
Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko mengatakan inisiasi ini berawal dari keprihatinannya saat melihat pameran teknologi pertahanan di Singapura yang minim karya anak bangsa. Ia melihat Indonesia memiliki 3.111 km wilayah perbatasan darat yang luas dan rawan perlintasan ilegal.
Baca juga: Pastikan Anak-Anak didaerahnya Bisa Sekolah, Gubernur Jateng Kembali Terapkan Sekolah Gratis
"Pagar Digital ini kami prioritaskan di Kalimantan (batas Malaysia), Papua (Papua Nugini), dan Nusa Tenggara Timur (Timor Leste). Untuk wilayah laut, fokus di Kepulauan Riau dan Batam," ujarnya, Selasa (30/6).
Sistem ini akan mengoptimalkan drone hasil pengembangan ITB sejak 2019, diproduksi bersama PT Dirgantara Indonesia. Drone dirancang beroperasi 24 jam dengan daya panel surya, mengombinasikan:
"Pagar digital memberikan kesadaran situasional real-time. Saat drone mendeteksi pergerakan di titik buta, sistem kirim koordinat ke pos terdekat. Ini memangkas waktu respons patroli konvensional secara drastis," jelasnya.
Data Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Darat Januari-April 2026 mencatat 679.867 pelintas resmi, namun jalur tikus masih jadi tantangan. Pagar Digital diharapkan menjadi fondasi kemandirian siber keimigrasian dan mengurangi ketergantungan pada sistem asing.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA