JATENG - Puluhan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPTEK bagi Desa Binaan Universitas Diponegoro (IDBU) 68 menggali sejarah, budaya, dan perkembangan Batik Rifaiyah di Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, melalui diskusi sejarah dan budaya yang diselenggarakan di Musholla Gedung Pimpinan Pusat Rifa'iyah pada Minggu (12/7).
Baca juga: Renovasi Makam Kyai Langgeng Perkuat Wisata Religi dan Lestarikan Sejarah Magelang
Ketua Umum Pimpinan Pusat Rifaiyah, Dr. KH. Mukhlisin Muzarie, M.Ag., menjelaskan Rifaiyah bukan tarekat dari Syekh Ahmad ar-Rifa'i al-Baghdadi, melainkan organisasi sosial-keagamaan yang berkembang melalui ajaran dan perjuangan KH Ahmad Rifa'i (lahir di Kendal, 1786) beserta murid-muridnya.
KH Ahmad Rifa'i menimba ilmu di Timur Tengah (8 tahun di Makkah, 12 tahun di Mesir) dan kembali pada 1836. Beliau aktif berdakwah dan mengkritik kolonial Belanda, sehingga pesantrennya dibakar, kitab-kitabnya dirampas, namun murid-muridnya menyebar dan mendirikan pesantren di berbagai daerah.
Nilai-nilai dakwah tersebut juga tercermin dalam Batik Rifaiyah. Hal ini tampak pada ciri khas batik yang tidak menggambarkan makhluk hidup secara utuh, melainkan menggunakan motif hewan yang telah distilisasi sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu, proses membatik juga diiringi dengan pembacaan saratan, yaitu melantunkan ayat-ayat Kitab Tarajumah karya KH. Ahmad Rifa'i, sebagai bentuk dzikir sekaligus media pembelajaran agama.
"Kalau membatik tidak boleh ada gambar hewan utuh. Itulah ciri Batik Rifaiyah," jelasnya.
Diskusi ini menjadi dasar penyusunan program edukasi sejarah dan pelestarian warisan budaya lokal oleh mahasiswa KKN Undip.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung