JATENG - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, punya pesan tegas: jika Indonesia ingin bersaing di kawasan ASEAN, kita harus berani "lompat" lewat pendidikan tinggi. Namun, lompatannya bukan sekadar gedung megah atau teknologi canggih, melainkan lewat pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, progresif, dan berkarakter.
"Tidak ada bangsa yang bisa maju kalau SDM-nya biasa-biasa saja," ujarnya saat mengunjungi Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Senin siang. Menurutnya, perguruan tinggi Muhammadiyah harus jadi penggerak sekaligus "kode etik" dalam menciptakan SDM yang berkualitas.
Baca juga: Muhammadiyah Dorong Akademisi Teliti Dampak Peraturan pada Masyarakat
Tapi Haedar tak hanya bicara soal fisik dan kompetensi. Dia mengingatkan kita pada lirik lagu Indonesia Raya: "bangunlah jiwanya, bangunlah badannya". "Kalau fisik dibangun tapi jiwanya tertinggal, bangsa bisa keropos. Sebaliknya, kalau cuma jiwa yang dibangun tapi fisik tertinggal, kita akan jadi terbelakang," katanya.
Baginya, nilai-nilai inti seperti Pancasila, agama, dan budaya nasional harus hidup dalam tindakan nyata, bukan cuma jadi teks di dinding atau buku. "Agama harus jadi sumber keteladanan yang mencerahkan, bukan sekadar ritual. Umat beragama mestinya tampil sebagai teladan yang menebar kebaikan," tegasnya.
Di tengah arus media sosial yang kerap memanas, Haedar juga mengingatkan pentingnya merawat persatuan dalam keberagaman. "Setiap suku punya kelebihan dan kekurangan. Kita harus bersatu dalam perbedaan itu sebagai Indonesia, bukan malah saling serang," ucapnya.
Menutup pesannya, dia berharap energi bangsa tak terkuras oleh konflik sepele, melainkan difokuskan untuk membangun Indonesia yang maju, berdaya saing, dan berkeadaban, dimulai dari pendidikan yang tak hanya mencetak pintar, tapi juga manusia yang berjiwa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA