JATENG - Fenomena tanah bergerak di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, terus meluas dan mulai mengkhawatirkan warga. Rekahan baru muncul tak jauh dari rekahan lama, bahkan jaraknya kini hanya sekitar satu meter.
Kapolsek Banjarejo AKP Gembong menjelaskan, pergerakan tanah menyebabkan permukaan tanah turun di sejumlah titik dengan kedalaman antara 40 hingga 50 sentimeter. Kondisi ini tak hanya terjadi di area lama, tetapi juga merambah ke lokasi yang sebelumnya aman, termasuk kawasan permukiman.
Dampaknya, sedikitnya tiga rumah warga dan kandang ternak ikut terdampak. Dua rumah dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah. Di salah satu rumah, tembok terlihat turun hingga sekitar setengah meter.
Area tanah bergerak diperkirakan membentang sepanjang 200 meter. Meski tidak lagi memanjang, pergerakan tanah justru melebar ke sisi lain dan semakin mendekati rumah-rumah warga.
Peniwati, salah satu warga terdampak, mengaku selama sebulan terakhir harus menimbun bagian belakang dapur rumahnya menggunakan material sebanyak satu mobil colt dan satu truk. Area yang ditimbun memiliki panjang sekitar 7 meter dan lebar 5 meter.
Baca juga: Anggaran Bansos Pemkab Blora 2026 Dipangkas hingga Rp1 Miliar
Warga lain, Nur Hidayah, juga mengalami hal serupa. Tanah di sekitar rumahnya ambles dengan ukuran kurang lebih 6 meter kali 4 meter. Sahid, warga setempat, menyebut lahan miliknya ikut terdampak dengan panjang sekitar 12 meter dan lebar 9 meter.
Warga mengatakan kejadian seperti ini bukan yang pertama. Peristiwa serupa pernah terjadi pada 1998, saat tanah ambles hingga kedalaman sekitar dua meter. Saat itu, tanah tidak bergerak ke arah sungai, melainkan turun secara vertikal. Retakan pada lantai rumah pun kembali muncul.
Menurut warga, penurunan tanah terjadi hampir setiap hari sekitar 2–3 sentimeter. Saat hujan deras, amblesan bahkan bisa mencapai 5 sentimeter dalam sehari.
Warga berharap pemerintah desa dan instansi terkait segera turun langsung ke lapangan untuk melakukan kajian teknis dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blora bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana telah merespons keluhan warga di Dukuh Sambiroto. Pergerakan tanah ini diduga dipicu oleh gerusan aliran Sungai Lusi.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Blora, Surat, menyampaikan bahwa inspeksi lapangan bersama BBWS Pemali Juana direncanakan akan dilakukan pada pekan depan. Hingga kini, pihak desa disebut belum menyampaikan laporan resmi ke Dinas PUPR Kabupaten Blora.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA