JATENG - Perjalanan panjang para calon bintang bulutangkis Indonesia memasuki babak baru. Sebanyak 50 atlet muda resmi melangkah ke tahap karantina Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2025 yang digelar di GOR Djarum Jati, Kudus.
Puluhan pemain muda ini sebelumnya berhasil meraih super tiket, baik lewat jalur juara turnamen maupun pilihan tim pencari bakat. Dari 50 peserta tersebut, 18 di antaranya adalah juara kompetisi, sementara 32 lainnya terpilih langsung karena dinilai punya potensi besar.
Selama empat minggu ke depan, mereka akan tinggal di asrama, menjalani berbagai tes mulai dari fisik, kesehatan, teknik, hingga karakter. Semua itu menjadi penentu siapa yang layak mendapat Beasiswa Bulutangkis Djarum dan dibina langsung di PB Djarum (Perkumpulan Bulutangkis Djarum).
Baca juga: Mulai Oktober 2025, Pelajar di Magelang Bisa Nikmati Angkutan Sekolah Gratis!
“Anak-anak ini punya potensi bagus, tapi mereka tetap harus melewati proses seleksi. Kami mencari bukan hanya pemain dengan teknik hebat, tapi juga disiplin, mental juara, dan semangat pantang menyerah,” ungkap Sigit Budiarto, Ketua Tim Pencari Bakat PB Djarum.
Mayoritas peserta berasal dari kelompok usia di bawah 13 tahun, dengan dominasi pemain U-11. Dari total 50 atlet, 30 putra dan 20 putri siap bersaing demi satu impian: menjadi bagian dari keluarga besar PB Djarum.
Bagi mereka yang berhasil mendapat super tiket, perjalanan masih panjang. “Super tiket bukan akhir perjuangan, tapi awal pembuktian. Gunakan kesempatan ini untuk menunjukkan kemampuan terbaik kalian. Untuk yang belum berhasil, jangan menyerah, masih banyak peluang di masa depan,” pesan Yoppy Rosimin, Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation sekaligus Ketua PB Djarum.
Baca juga: Koperasi Desa Merah Putih di Kudus Mulai Menggalang Keanggotaan
Cerita haru pun mewarnai perjalanan para peserta. Kadek Devandra Amertha, atlet asal Badung, Bali, berhasil lolos setelah menang dua set langsung atas lawannya. “Ini pertama kali ikut audisi, senang banget bisa dapat super tiket. Memang berat harus jauh dari orang tua, tapi saya sudah bertekad masuk PB Djarum,” ujarnya.
Sementara itu, kisah menyentuh datang dari Nagita Nadila Posumah, atlet U-11 asal Manado. Meski kalah di babak 32 besar, ia tetap mendapat super tiket lewat jalur pilihan tim pencari bakat. “Awalnya sudah ikhlas kalah, tapi ternyata masih dipilih. Rasanya senang sekali, cita-cita masuk PB Djarum makin dekat,” ujarnya.
Sang ibu, Henny Anny Kaunang, mengaku berat melepas putrinya, namun tetap memberikan dukungan penuh. “Sedih juga melepas anak ke karantina, tapi demi cita-citanya, kami harus mendukung. Semoga suatu hari bisa membanggakan Indonesia.”
Kini, 50 atlet muda ini bersiap menghadapi hari-hari penuh disiplin di karantina. Dari sini, langkah besar menuju mimpi mereka sebagai pebulutangkis masa depan Indonesia benar-benar dimulai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA