JATENG - Universitas Tidar (Untidar) memperkenalkan teknologi insinerator untuk mengolah sampah residu menjadi material konstruksi ramah lingkungan melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) 2025. Kegiatan berlangsung di Pendopo Dusun Karaharjan, Desa Gunungpring, Muntilan.
Program ini menjawab persoalan sampah yang sulit didaur ulang sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga. PKM didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kemendiktisaintek 2025.
Baca juga: Bukan Teknologi Saja: Sumarno Tekankan Peran Masyarakat dalam Atasi Sampah
Sejak September, tim PKM dari Fakultas Teknik Untidar telah melakukan sosialisasi, pabrikasi alat, uji fungsi, dan pendampingan. Ketua tim, Nani Mulyaningsih, menyebut insinerator ini bermanfaat ganda karena mampu mengurangi sampah residu dan menghasilkan produk seperti paving block maupun bata ringan untuk kebutuhan desa atau dijual.
Pelatihan diberikan secara intensif agar masyarakat dapat mengoperasikan alat secara mandiri. Kepala Desa Gunungpring, Ilham Abadi, mengapresiasi dukungan Untidar dan menyebut insinerator sebagai teknologi penting bagi Bank Sampah Darlingsih.
Inovasi ini menunjukkan peran perguruan tinggi dalam membantu desa mengelola sampah sekaligus memperkuat potensi ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Sebanyak 25 peserta mengikuti kegiatan tersebut, termasuk pengurus bank sampah, perangkat desa, dan mahasiswa MBKM Untidar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkab Magelang