Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 30 OKTOBER 2025 • 07:00 WIB

Gubernur Jateng: Banyak Kasus Gangguan Jiwa Ditemukan Lewat Program CKG

Gubernur Jateng: Banyak Kasus Gangguan Jiwa Ditemukan Lewat Program CKGGubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau program Speling yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG), (DOK/ANTARA).

JATENG - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengungkapkan bahwa gangguan kesehatan jiwa menjadi salah satu penyakit yang paling sering terdeteksi melalui program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang terintegrasi dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Dari hasil pantauan saya, kasus yang paling banyak muncul justru gangguan jiwa. Karena itu, kami libatkan dokter spesialis kejiwaan dalam program Speling,” ujar Luthfi di Semarang, Sabtu (12/10).

Data Dinas Kesehatan Jawa Tengah per 10 Oktober 2025 mencatat, sebanyak 5.918.363 orang telah mengikuti skrining kesehatan jiwa melalui Speling, CKG, serta berbagai kegiatan pemeriksaan lain, termasuk di sekolah-sekolah.

Dari jumlah tersebut, 32.735 orang (0,55%) menunjukkan indikasi depresi, sementara 28.846 orang (0,49%) terdeteksi memiliki gejala kecemasan.

Baca juga: Atasi Keluhan Warga, Dishub Semarang Perkuat Armada Perawatan Jalan dan Rambu Lalu Lintas

Menurut Gubernur, program Speling dibuat untuk menghadirkan pelayanan dokter spesialis yang mudah dijangkau masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Hingga September 2025, program ini telah menjangkau 560 desa dan terintegrasi dengan CKG yang digagas pemerintah pusat.

“Selama ini masyarakat desa jarang bisa bertemu dokter spesialis. Program Speling yang terhubung dengan CKG menjadi bukti kehadiran negara dalam pelayanan kesehatan berbasis desa. Ini akan terus kami lanjutkan,” jelasnya.

Sementara itu, dokter spesialis jiwa RSJD RM Soedjarwadi Klaten, dr. Dwi Rejeki Nursanti, menuturkan bahwa gangguan kejiwaan ringan seperti depresi dan kecemasan kerap dialami oleh lansia, terutama mereka yang tinggal sendirian.

“Banyak pasien lanjut usia yang datang dengan keluhan cemas dan depresi ringan. Dari sepuluh pasien yang saya tangani, tujuh di antaranya mengalami kondisi tersebut,” ungkap Dwi, yang juga terjun langsung dalam layanan Speling.

Baca juga: Bupati Semarang Salurkan Rp490 Juta untuk 62 Organisasi Masyarakat Demi Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Ia menambahkan, mayoritas pasien berusia di atas 50 tahun, bahkan ada yang mencapai 65 tahun. Beberapa mengaku merasa kesepian karena anak-anak mereka merantau.

Menurut Dwi, aktivitas sosial seperti pengajian, arisan PKK, atau posyandu lansia bisa membantu mengurangi rasa cemas dan depresi pada kelompok usia lanjut.

Selain Speling, RSJD RM Soedjarwadi juga menjalankan program Sapu Jagad, yang memungkinkan masyarakat melaporkan keberadaan orang dengan gangguan jiwa di lingkungannya. Rumah sakit kemudian akan menjemput, memberikan pengobatan, terapi, serta pelatihan keterampilan sebelum pasien kembali ke masyarakat.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Gubernur Jateng: Banyak Kasus Gangguan Jiwa Ditemukan Lewat Program CKG

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!