JATENG – Di tengah derasnya arus digitalisasi, minat baca masyarakat seringkali kalah oleh godaan gawai dan media sosial. Karena itu, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Wonogiri mendorong agar perpustakaan desa, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), hingga perpustakaan di rumah ibadah bisa semakin inovatif dalam mengelola dan memanfaatkan bahan bacaan bermutu.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Mawan Tri Hananto, mengatakan bahwa bantuan buku dari Perpustakaan Nasional RI diharapkan menjadi pemicu semangat literasi di Wonogiri. “Buku-buku ini jangan hanya disimpan di rak. Harapannya bisa dipakai untuk menghidupkan kegiatan literasi di desa, tentu dengan dukungan para pengelola perpustakaan dan TBM,” ujarnya saat kegiatan monitoring dan evaluasi di Gedung MPP Go Nyawiji Wonogiri, Kamis (28/8/2025).
Baca juga: Perpustakaan Jateng Hadirkan Cafe Aksara dengan Menu Unik Berbalut Literasi
Tahun 2024–2025, Wonogiri mendapat jatah 42 bantuan bahan bacaan bermutu, terdiri dari 24 perpustakaan desa/kelurahan, 16 TBM, dan 2 perpustakaan rumah ibadah. Sayangnya, baru segelintir yang aktif melaporkan pemanfaatannya lewat sistem Perpusnas. Dari 42 penerima, hanya empat perpustakaan yang sudah melakukan input laporan, dengan hasil yang bervariasi.
Kabar baiknya, sebanyak 20 perpustakaan desa dan TBM menjadi lokasi KKN Literasi 2025 pada Juli–Agustus lalu. Kehadiran mahasiswa membantu dalam pendataan, penataan, sekaligus menghidupkan kegiatan literasi di masyarakat. Meski begitu, masih ada 22 perpustakaan lain yang butuh perhatian lebih agar bisa maksimal.
Baca juga: Demi Meningkatkan Minat Baca, Pemkab Banjarnegara Beri 1.000 Buku ke 44 Perpustakaan Desa
Sementara itu, Miswanto dari Relawan Literasi Masyarakat (Relima) menekankan bahwa buku-buku bantuan harus benar-benar “hidup” di tangan masyarakat. Relima sendiri mendampingi pengelola agar berani berinovasi, misalnya lewat kegiatan membaca bersama anak-anak, bedah buku, diskusi warga, pojok baca kreatif, hingga kolaborasi dengan sekolah dan PKK.
“Kalau koleksi dimanfaatkan dengan cara kreatif, perpustakaan bisa jadi ruang yang hidup. Warga pun makin dekat dengan budaya membaca,” jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Pemprov Jateng