Rabu, 12 NOVEMBER 2025 • 08:06 WIB

BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah Selatan Selama November 2025

Author

Teguh Wardoyo, Ketua Tim Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Tunggul Wulung Cilacap (DOK/ANTARA).

JATENG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap mengingatkan masyarakat mengenai potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Tengah bagian selatan sepanjang November 2025. Cuaca ekstrem tersebut berpotensi berupa hujan lebat hingga sangat lebat.

Ketua Tim Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Cilacap, Teguh Wardoyo, menjelaskan pada Senin bahwa peningkatan curah hujan sudah tampak sejak Mei dan terus naik hingga Oktober 2025.

“Secara umum, curah hujan tahun ini berada di atas normal, kecuali pada Juli yang sempat menurun. Bahkan Agustus, yang biasanya puncak musim kemarau, justru mencatat peningkatan curah hujan hampir 600 persen dari biasanya,” ujarnya.

Berdasarkan prakiraan, curah hujan di Cilacap dan Banyumas pada November 2025 diperkirakan berkisar antara 300 hingga lebih dari 500 milimeter per bulan, tergolong tinggi hingga sangat tinggi.
Beberapa wilayah yang diprediksi akan mengalami hujan sangat lebat antara lain Karangpucung, Gandrungmangu, Bantarsari, Cilacap Utara, Cilacap Tengah, Cilacap Selatan, Jeruklegi, Kesugihan, Sampang, Maos, Adipala, Kroya, Binangun, dan Nusawungu.

Sementara di Kabupaten Banyumas, hampir seluruh kecamatan juga diperkirakan mengalami curah hujan tinggi dengan kondisi di atas normal.

Baca juga: Mitigasi Bencana: Gubernur Jateng Bangun Rumah Ruspin untuk Warga Rawan Longsor

Teguh menambahkan, hujan deras sudah terpantau sejak 9–10 November 2025 di sejumlah wilayah.

“Di Cilacap bagian barat, curah hujan mencapai 80 milimeter di Majenang, 77 milimeter di Cimanggu, dan 73 milimeter di Dayeuhluhur, yang sempat menyebabkan tanah longsor di Karangpucung,” katanya.

Pada 10 November, intensitas hujan meningkat hingga 102 milimeter di Cipari, 98 milimeter di Karangpucung, dan 78 milimeter di Cimanggu. Kondisi serupa juga terjadi di Banyumas, dengan curah hujan mencapai 100 milimeter di Gumelar dan 87 milimeter di Kebun Darmakradenan.

Fenomena ini dipengaruhi oleh tekanan rendah di Samudra Hindia barat daya Sumatera, siklon tropis Fung Wong di Laut Filipina, serta aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) fase 5 yang memicu pembentukan awan hujan di wilayah Jawa bagian selatan.

“Potensi hujan sedang hingga sangat lebat masih mungkin terjadi hingga akhir November, terutama pada siang hingga malam hari,” ujar Teguh.

BMKG mengimbau masyarakat serta pemerintah daerah di Cilacap, Banyumas, dan sekitarnya agar tetap waspada terhadap potensi banjir, longsor, dan angin kencang.

“Koordinasi lintas sektor diperlukan agar kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem dapat ditingkatkan dan risiko bencana bisa ditekan,” tambahnya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU