JATENG - Teddy Purnomo (28), petani milenial asal Dukuh Tambakampel, Desa Tambahrejo, Kecamatan Tunjungan, Blora, sukses membudidayakan melon pertiwi dan mematahkan anggapan bahwa bertani tidak menjanjikan.
Teddy bersama keluarga mulai bertani sejak 2012, kemudian pada 2019 mencoba mengembangkan melon jenis pertiwi dan amanda di lahan hampir satu hektare.
Baca juga: Pemkot Magelang Tempatkan Pendidikan Sebagai Fondasi Pembangunan SDM
"Kalau tanamannya bagus, hasil panen bisa mencapai 40 ton," ujarnya, Rabu (13/5).
Dengan harga jual sekitar Rp7.000 per kilogram, omzet dalam satu musim tanam bisa mencapai sekitar Rp280 juta. Panen dilakukan setiap 60 hari sekali (tiga kali setahun). Sejak 2025, ia menjadi salah satu pemasok buah di Blora.
Teddy juga menyewa lahan di wilayah lain: Dukuh Nglego (1 hektare), Desa Sendangsari (0,5 hektare), dan Desa Mbrebak (0,5 hektare).
Hasil panen dijual secara tebasan ke pengepul, lalu dipasarkan ke Jakarta, Pasar Induk Kramat Jati, Semarang, dan lainnya.
Teddy mengaku memilih bertani karena lebih fleksibel dan memiliki prospek menjanjikan jika ditekuni serius. Generasi muda juga punya peluang besar bertani modern dengan inovasi dan ketelatenan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA