JATENG - Masa Kolonial membuat banyak kalangan perempuan kelas bawah bumiputera cukup sulit untuk mendapatkan akses pendidikan.
Bagi anak bangsawan pendidikan yang layak atau bahkan setara internasional tentu sangat mudah didapat.
Hal tersebut memunculkan kemauan dari benak seorang perempuan yang berasal dari tanah Jepara.
Baca juga: Alun-Alun Kembang Joyo dipadati Banyak Masyarakat untuk CFD
Lahir pada Senin Pahing 1 Maret 1881. Kardinah namanya, ia adalah saudara dari Kartini, yang sama-sama memiliki keinginan memajukan kesejahteraan psrempuan.
Kardinah disekolahkan oleh ayahnya di Europeesche Lagere School (ELS), meskipun masuk sekolah elite, Kardinah tetap diajarkan untuk menggeluti berbagai bidang.
Diajak oleh ayahnya, Kardinah diberikan bekal moral berupa membantu dan merasakan pekerjaan rakyat seperti membatik, merajut, menyulam, dan menjahit, tak lupa pendidikan agama, budaya Jawa juga diajarkan.
Baca juga: Sinergi Dua Organisasi Semakin Diperkuat Menghadapi Kemungkinan di Masa Mendatang
Kardinah bersama kedua kakaknya yaitu Kartini dan Roekmini banyak berbincang mengenai pemikirannya terhadap kesejahteraan perempuan kelas bawah bumiputera setelah lulus dari ELS dan sedang menjalani masa pingitannya (Peralihan dari gadis ke dewasa).
Kedekatan mereka bertiga dijuluki sebagai Daun Semanggi oleh Nyonya Ovink-Soer, Istri Residen Ovink salah satu pejabat pemerintah kolonial yang berada di Jepara.
Nyonya Ovink mendesak kepada ayah Daun Semanggi agar mereka dibebaskan dari masa pingitannya.
Baca juga: Musim Hujan, Harga Sayuran di Pasar Agro Sewukan Magelang Fluktuatif
Masa pingitan ini menurut Nyonya Ovink membuat ketiganya tidak bisa memenuhi keinginannya untuk meraih mimpi menjadi guru.
Nyonya Ovink faktor utama yang menjadikan ketiganya bisa pergi ke Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor), masa pingit mereka berakhir pada 2 Mei 1898.
Ketiganya bisa pergi ke Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor) pada 8 Agustus 1900 untuk memperluas jaringan sosialnya berkat pasangan Abendanon.
Kardinah dan kedua saudaranya juga pada saat itu akan mengikuti ujian guru, sayangnya sebelum sempat mewujudkan cita-cita untuk melanjutkan pendidikannya, kardinah harus menerima pinangan dari seorang Patih Pemalang bernama R.M. Reksoharjono, tepatnya pada 24 Januari 1902.
Baca juga: Urus Izin Usaha Makin Mudah Lewat Sistem OSS, DPMPTSP Magelang Gelar Bimtek
Setelah menikah R.M. Reksoharjono diangkat menjadi Bupati Tegal pada 16 Juni 1908 yang membuat kardinah juga Pindah ke Tegal setelah sebelumnya tinggal di Pemalang.
Pada 1 Maret 1916 Kardinah mendirikan Sekolah Wisma Pranawa, yang didorong oleh keprihatinan terhadap ketidakadilan dalam penyediaan fasilitas pendidikan bagi kaum Bumiputera di Tegal, terutama bagi anak perempuan yang memiliki peluang sangat kecil untuk menempuh pendidikan tinggi.
Di sekolah tersebut, murid diajarkan banyak sekali keterampilan yang mengasah kemampuan diantaranya:
Baca juga: BP4 Gelar Rapat Guna Pastikan Programnya Terlaksana dengan baik
- Pendidikan dasar budaya Jawa
- Mempelajari bahasa Jawa dan bahasa Belanda
- Belajar agama Islam
- Bahkan belajar keterampilan praktis perempuan seperti membatik, memasak, menjahit, merajut, dan menyulam.
Selain itu mereka juga rencananya akan diberikan pendidikan terkait ilmu kesehatan di tahun 1917 nantinya.
Ajaran mengenai pendidikan ilmu kesehatan inilah yang nantinya akan melahirkan salah satu rumah sakit besar yang saat ini masih beroperasi di Tegal.
Baca juga: Wabup Dion Jelajahi Pesona Alam Bruno, Dorong Kesadaran Masyarakat akan Pentingnya Pariwisata
Rumah Sakit Kardinah (Kardinah Ziekenhuis) yang diresmiman pada 2 November 1927, rumah sakit ini lahir atas keprihatinan Kartini terhadap murid-muridnya yang harus melahirkan dengan fasilitas medis yang tidak layak.
Pada awalnya rumah sakit ini hanya akan berfokus pada Rumah Sakit persalinan, namun setelah berbagai pertimbangan rumah sakit ini juga melayani masyarakat Tegal dan sekitarnya yang tidak memiliki cukup biaya untuk memperoleh perawatan medis yang baik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Pendidikan Sejarah