JATENG - Museum Jawa Tengah Ranggawarsita menggelar seminar bertajuk “Melacak Peradaban Kuno melalui Budaya Tulis Jawa (Prasasti) dan Membaca Wayang Revolusi Jawa Tengah” pada Kamis (8/5). Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari bidang sejarah dan arkeologi sebagai ruang diskusi pelestarian warisan budaya.
Baca juga: Wiwitan di Lereng Sumbing, Tandai Awal Musim Tanam Tembakau Temanggung 2026
Kepala Museum Ranggawarsita, Agung Raharjo Wibowo Kusumo, berharap seminar ini menambah pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga warisan dan peradaban.
Pembahasan Wayang Suluh (Prof. Dhanang Respati Puguh):
- Wayang Suluh adalah media penerangan dan perjuangan pada awal kemerdekaan
- Pertama kali diperkenalkan 10 Maret 1947 di Balai Rakyat Madiun
- Dimanfaatkan Jawatan Penerangan RI sebagai sarana penerangan di pedesaan
- Koleksi museum mencakup Wayang Suluh Pejuang, Londo, Dokter, dan Pribumi
Pembahasan Arkeologi dan Budaya Tulis (Goenawan A. Sambodo):
- Arkeologi mempelajari kehidupan manusia masa lalu melalui artefak, ekofak, dan fitur
- Ekskavasi (penggalian arkeologis) bertujuan memahami kehidupan manusia, bukan sekadar menggali benda
- Metode pendokumentasian prasasti: absklat, rubbing, facsimile, hingga pemodelan 3D
- Struktur prasasti meliputi penanggalan, peristiwa, hingga sumpah (sapatha)
Museum Ranggawarsita berupaya memperkenalkan kembali budaya tulis dan seni pertunjukan tradisional sebagai identitas budaya Jawa Tengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Pengalaman Langsung