JATENG - Desa Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, memiliki 47 remaja milenial yang tergabung dalam Bank Sampah Muda Berkarya. Mereka mengelola sampah menjadi uang untuk membantu anak yatim dan warga membutuhkan.
Ketua Bank Sampah, Septyo Nugroho, mengatakan sampah dikumpulkan setiap 35 hari dari warga desa, lalu dipilah. Sampah organik dibuat pupuk tanaman. Sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, besi, alumunium dijual ke pengepul.
Baca juga: Pemkot Pekalongan Sediakan Lahan 3,6 Hektare untuk Proyek Sampah Jadi Energi Listrik
"Apabila semua tahu sampah itu punya nilai ekonomis, orang jadi mikir lagi mau buang sampah sembarangan," ujarnya, Senin (4/5).
Uang hasil penjualan digunakan untuk membantu anak yatim, pembagian takjil di masjid/musala, serta kegiatan Jumat berkah (beli sayur hasil panen warga untuk dibagikan ke warga lain).
Bendahara Dwi Septi dan Uswatun Khasanah mengatakan saldo akhir pengelolaan sampah saat ini mencapai Rp7 juta.
Kepala Desa Ngargosoko, Suhudin, mengapresiasi anak muda yang mau bergelut dengan sampah. "Tidak hanya peduli lingkungan, tapi juga bisa membantu warga membutuhkan," ujarnya.
Plh. Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup (PSPKLH) DLH Kabupaten Magelang, Soko Wibowo, mengatakan keterlibatan generasi milenial (75 persen) dalam pengelolaan sampah ini patut menjadi contoh desa lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkab Magelang