Rabu, 04 MARET 2026 • 09:00 WIB

Khoirul Mutakin Populerkan Topeng Gaya Magelangan dari Desa Bandongan

Author

Khoirul Mutakin, perajin topeng dari Desa Bandongan, Magelang (Pemkab Magelang).

JATENG - Desa Bandongan, Kabupaten Magelang, dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan topeng kayu klasik yang terus tumbuh. Salah satu perajinnya, Khoirul Mutakin, mengembangkan topeng gaya Solo dan Yogyakarta, namun kini mulai mempopulerkan gaya khas Magelangan.

Sejak 2011, Khoirul belajar membuat topeng secara otodidak. Kini ia mampu menghasilkan 15–20 karakter topeng, sebagian besar dari tokoh Wayang Beber Panji, seni wayang pra-Islam yang mengadaptasi kisah cinta Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji.

Baca juga: Pemkot Magelang Bangun Budaya Transparansi untuk Tingkatkan Layanan Publik

“Saya dulu asal buat saja, tapi terus diarahkan sampai mulai paham topeng klasik,” ujarnya, Kamis (22/1).

Proses pembuatan topeng dilakukan manual dengan bahan kayu seperti jati lanang, pule, atau waru. Waktu pembuatan rata-rata lima hari, tergantung kekerasan kayu. Topeng buatannya dibanderol Rp500 ribu hingga Rp2 juta per buah, tergantung detail dan tingkat kesulitan.

Kendala utama yang dihadapi adalah pemasaran yang masih terbatas. Pembeli kebanyakan penari, sehingga pesanan tidak menentu. Khoirul belum memanfaatkan platform digital dan tetap memproduksi topeng untuk stok meski tanpa order.

Dukungan Desa dan Cita-cita Topeng Magelangan

Kepala Desa Bandongan, Sujono, mengatakan pemerintah desa aktif mendukung perajin melalui fasilitasi pameran, etalase UMKM di kantor desa, dan keterlibatan dalam Festival Lima Gunung.

“Topeng ini potensial jadi identitas budaya Magelang. Gaya Magelangan sebenarnya pernah diperkenalkan mendiang Romo Yoso Soedarmo. Sekarang Khoirul yang mencoba mengembangkannya,” jelas Sujono.

Ke depan, Desa Bandongan direncanakan masuk dalam kawasan desa tematik Umpak Sumbing sebagai desa wisata berbasis potensi lokal. Dukungan komunitas seni dan pemerintah diharapkan mampu memperkuat ekosistem kerajinan topeng agar tidak sekadar bertahan, tapi menjadi kekayaan budaya Magelang yang dikenal luas.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkab Magelang

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU