JATENG - Pada peringatan Hari Jadi ke-189 Kabupaten Purworejo (27 Februari 2020), sejarah penamaan “Purworejo” diungkap dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD setempat. Asisten Administrasi dan Kesra Sekda Purworejo, Pram Prasetyo Achmad, menjelaskan bahwa nama ini pertama kali diumumkan pada 27 Februari 1831.
Saat itu, Bupati Brengkelan, Kanjeng Raden Tumenggung Tjokrojoyo, usai salat Tarawih dan tadarus Al-Qur’an, mengumumkan perubahan nama daerah dan namanya sendiri. Wilayah yang meliputi Tanggung, Brangkilen, Kedungkebu, Loano, Bragolan, dan Banyuurip yang sebelumnya bagian Kadipaten Brengkelan diubah menjadi Purworejo. Gelar dan nama beliau pun berubah menjadi Raden Adipati Arya (RAA) Tjokronegoro.
Nama “Purworejo” dipilih sebagai harapan agar wilayah ini menjadi awal kemajuan, kemakmuran, dan kemuliaan (mulyo) bagi masyarakatnya. Perubahan ini juga menegaskan kemandirian dengan melepas gelar pemberian sebelumnya.
Terdapat tiga aspek yang mendasari penetapan 27 Februari 1831 sebagai Hari Jadi Purworejo:
- Aspek logis: usia sekitar 190 tahun sejalan dengan kota-kota lain seperti Wonosobo (193 tahun) dan Temanggung (186 tahun).
- Aspek relevansi: kata “Purworejo” pertama kali diucapkan secara resmi pada tanggal tersebut.
- Aspek praksis: memudahkan inventarisasi perjalanan pembangunan sejak 1831 hingga sekarang.
Mantan Bupati Purworejo, Agus Bastian, menegaskan bahwa makna “Purworejo” sebagai awal kemakmuran harus terus dihidupkan. “Mari kita bersatu padu memberikan karya terbaik bagi Purworejo yang kita banggakan ini,” ajaknya.
Semangat ini juga tercermin dalam pilar Masjid Jami Purworejo, yang terukir kalimat dari Al-Qur’an: “Wal Ya Tatalat tof” yang berarti “Dan Berlaku Berlemah Lembutlah” mengingatkan pentingnya nilai religius dan budaya dalam membangun kemajuan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemprov Jateng