Senin, 10 NOVEMBER 2025 • 09:00 WIB

Hidupkan Pertanian Tanpa Listrik, Warga Bondowoso Manfaatkan Kincir Air Bambu Tradisional

Author

Kincir air tradisional milik Nur Kholis masih berfungsi optimal mengaliri kolam ikannya (Pemkab Magelang).

JATENG - Di tengah mahalnya harga bahan bakar dan keterbatasan irigasi, warga Desa Bondowoso, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, menemukan cara sederhana namun cerdas untuk menjaga aliran air ke sawah dan kolam ikan mereka sepanjang tahun.
Mereka memanfaatkan jinontro, kincir air bambu tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dan masih berfungsi hingga kini. Tanpa listrik, tanpa solar, dan mampu beroperasi tanpa henti selama 24 jam.

Kepala Desa Bondowoso, Muh Thoifur, menjelaskan bahwa desa tersebut memiliki sumber air Gending yang jernih dan stabil, bahkan di musim kemarau. Namun, karena letak sungainya berada lebih rendah dari lahan pertanian, sistem irigasi konvensional sulit diterapkan.
“Kalau pakai diesel biayanya tinggi. Jadi warga memanfaatkan jinontro yang sudah ada sejak dulu,” ujarnya, Rabu (29/10).

Kincir bambu itu bekerja dengan prinsip sederhana: arus sungai memutar bilah-bilah kincir yang menampung air, lalu mengalirkannya ke penampungan di bagian atas, sebelum disalurkan ke sawah atau kolam ikan.
“Efisien sekali, tanpa biaya dan bisa beroperasi terus-menerus,” tambahnya.

Baca juga: Wali Kota Magelang Ajak Warga Bersatu Cegah Stunting

Saat ini, tercatat lebih dari tiga unit kincir yang masih aktif digunakan warga. Bagi Thoifur, teknologi ini membuktikan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, tapi juga solusi ramah lingkungan yang relevan.
“Kalau potensi seperti ini dikembangkan, hasilnya bisa luar biasa. Lahan kita luas dan bisa menyerap banyak tenaga kerja,” jelasnya.

Salah satu warga yang menjaga warisan ini adalah Nur Kholis (50) dari Dusun Gedongan Kulon. Kincir yang dimilikinya merupakan peninggalan keluarga sejak masa kakeknya.
“Saya hanya meneruskan tradisi. Bambu dipilih karena kuat tapi ringan, dan kalau banjir tidak mudah rusak,” tuturnya.

Kincir bambu miliknya membentang sekitar tujuh meter melintasi sungai. Perawatannya nyaris tanpa biaya, cukup dibersihkan saat tersumbat atau diperbaiki jika rusak. Dalam kondisi baik, kincir bisa bertahan hingga satu setengah tahun.
Sekarang, Kholis memiliki tiga kincir yang mengairi delapan kolam ikan berisi nila, bawal, dan lele.

Baca juga: Bupati Magelang Dorong Wisata Inklusif di Kawasan Borobudur

Namun, tantangan baru muncul yaitu kondisi sungai Gending kini mulai tercemar dan dangkal akibat sampah rumah tangga.
“Dulu airnya jernih, sekarang banyak sampah, bahkan bantal dan plastik ikut hanyut,” keluh Kholis.

Meski begitu, warga tetap beradaptasi. Mereka menyesuaikan bentuk dan ukuran kincir agar tetap berputar meski debit air berkurang.
“Kalau airnya surut, saya tambahkan sayap biar bisa tetap mutar,” kata Kholis.

Teknologi sederhana ini menjadi bukti bahwa warisan lokal tak sekadar bernilai sejarah, tetapi juga solusi nyata bagi pertanian berkelanjutan di masa kini.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemkab Magelang

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU