Nawal Yasin bersama mahawiswa dan santri (DOK/Humas Pemprov Jateng)
JATENG - Sebelum teknologi berkembang sepesat sekarang, banyak Syekh-syekh yang mengajak para santrinya untuk tingkatkan literasi.
Banyak pesantren diera ini yang semakin meninggalkan budaya literasi karena faktor kemajuan zaman.
Nawal yasin ingin mengajak para santri di Jawa Tengah untuk bisa jadi penggerak literasi.
Literasi yang dimaksud bukan hanya sekedar membaca, menulis juga bisa dianggap budaya yang bisa meningkatkan literasi.
Menurut Nawal pesantren dan literasi adalah dua hal yang saling melekat. Proses pembelajaran di pesantren pada esensinya adalah praktik literasi yang utuh. Mulai dari membaca, memahami, mengajarkan, mendiskusikan, hingga menulis, menerjemahkan, mensyarah, serta mempublikasikan kitab kuning.
Baca juga: Gubernur Jateng Pastikan Stok Pangan Aman Meski Sejumlah Daerah Terdampak Banjir
Meski demikian, budaya literasi di pesantren masih menghadapi berbagai tantangan. Antara lain tingginya harga kitab, keterbatasan fasilitas perpustakaan, belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital oleh santri, serta menurunnya tradisi menulis dan penerjemahan kitab.
Sebagai upaya penguatan, Nawal mendorong sejumlah langkah strategis, seperti pengembangan perpustakaan pesantren dan digitalisasi kitab kuning, pembudayaan tradisi menulis, serta penguatan forum diskusi kitab. Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat memperluas akses melalui hibah kitab kuning maupun fasilitasi pameran kitab.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemprov Jateng