JATENG - Kabupaten Kebumen memiliki sejarah yang mengakar pada masa Kesultanan Mataram. Berdasarkan Perda Kebumen Nomor 3 Tahun 2018, Hari Jadi Kebumen ditetapkan pada 21 Agustus 1629, yang merujuk pada peran penting Ki Bodronolo dalam membantu pasukan Sultan Agung menyerang Batavia.
Ki Bodronolo, tokoh asal Panjer (sekarang Kebumen), berhasil mengumpulkan logistik dan perbekalan untuk mendukung perjuangan melawan VOC Belanda. Kisah heroik ini tidak hanya tercatat dalam tradisi lisan Kebumen, tetapi juga dalam Babad Tuk Kali Sunter dari Depok, Jawa Barat.
Baca juga: Sekolah Rakyat Kebumen, Harapan Baru untuk Anak-Anak Kurang Mampu
Nama "Kebumen" konon berasal dari kata "kabumian", yang berarti tempat tinggal Kyai Bumi. Nama ini dikaitkan dengan kedatangan Pangeran Bumidirja (Pangeran Mangkubumi) yang mengungsi ke wilayah ini pada 26 Juni 1677.
Selain Ki Bodronolo, sejarah Kebumen juga diwarnai oleh tokoh-tokoh seperti:
- Ki Suwarno, yang diangkat Sultan Agung menjadi Bupati Panjer.
- Tumenggung Arungbinang I (Joko Sangrib), putra Pakubuwono I, yang berperan sebagai penghubung rahasia antara keraton Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunegaran.
Penetapan Hari Jadi Kebumen dilakukan melalui penelitian mendalam yang meliputi studi dokumen, diskusi, dan wawancara untuk memastikan akurasi sejarah sekaligus menumbuhkan kebanggaan, persatuan, dan semangat membangun daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemkab Kebumen