Jumat, 04 JULI 2025 • 08:15 WIB

Lawang Satus: Saksi Bisu, Simbol Perlawanan Jepang

Author

Lawang Satus ((DOK/madosijateng.com))

JATENG- Salah satu bangunan bersejarah yang ada di Kota Tegal yaitu Lawang Satus, bangunan ini sekarang difungsikan sebagai situs budaya.  

Pada awalnya Lawang Satus disebut sebagai gedung Birau. Gedung Semarang Cheriboon Stroomtram Maatschappij yang dibangun pada tahun 1913 oleh arsitek Belanda, Henri Macaline.

Karena dulunya bangunn ini difungsikan sebagai kantor perusahaan kereta api, jadi sampai sekarang, bangunan ini masih di kelola oleh KAI (Kereta Api Indonesia.

Bangunan ini terletak di Jalan Pancasila berdekatan dengan Taman Pancasila. Dulu kantor kereta api ini juga melayani perjalanan kereta Cirebon-Tegal-Pekalongan-Semarang.

Setelah kependudukan Jepang bangunan ini difungsikan sebagai Balai tentara milik Jepang.

Pada masa revolusi kemerdekaan, para golongan muda dari Angkatan Muda Kereta Api (AMKA). Menjadikan bangunan ini sebagai simbol perlawanan atas Jepang.

Kemudian di tanggal 10 September 1945, gedung ini juga menjadi saksi pergerakan masyarakat Tegal dalam melawan penjajah melalui pengibaran Sang Saka Merah Putih yang pada saat itu masih dilarang dikibarkan.

Bangunan yang luasnya sekitar 7 hektar ini memiliki empat lantai, sekarang dijadikan sebagai tempat berfoto oleh para wisatawan sayangnya para wisatawan tidak dapat masuk sembarangan karena harus memiliki izin dari pengurus gedung. Bangunan ini kini disebut sebagai Lawang Satus, karena memiliki banyak pintu layaknya Lawang Sewu di Semarang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Madosijateng.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU