Rumah Apung (DOK/Humas Pemprov Jateng)
JATENG - Bertahan di rumah tua, rumah kelahirannya dan mendengar suara gemuruh ombak setiap harinya adalah kebiasaan Pasijah atau karib disapa Mak Jah.
Nenek berusia 56 Tahun ini tinggal bersama keluarganya di Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, yang mana lokasi tersebut kini dihantam air abrasi.
Berdasarkan hasil wawancara dari pihak Humas Jateng, bahwa mbah jeh adalah satu-satunya orang yang bertahan di Dusun tersebut setelah abrasi mulai melanda.
Baca juga: PWG Jadi Pekerjaan yang Sedang Trend Saat Ini, Pemprov Jateng Baru Saja Menyeleksi
Mbah Jeh sejak abrasi mulai melanda tempatnya pada tahun 2000, yang kemudian semakin parah pada 2010, beliau mulai menanam mangrove di disekitar rumahnya.
Upaya penanaman mangrove di sekitar rumah membuat Mbah Jeh dan keluarga hingga saat ini bisa bertahan dari hantaman ombak.
Diceritakan bahwa Mbah Jeh harus mendorong perahu selama 15 hingga 30 menit untuk menuju ke daratan, dan menggayuh sepedanya untuk pergi ke pasar.
Sebelum rob separah ini, terdapat 200 kepala keluarga yang satu persatu kemudian mulai meninggalkan kampung halaman mereka di bak rob yang tak kunjung berhenti.
Perjuangan Mbah Jeh dan upayanya dalam menjaga rumahnya dengan menanam mangrove membuat Pemprov Jateng dan akhirnya memberikan bantuan berupa rumah apung.
Atas pemberian rumah apung dari Pemprov Jateng, Mbah Jeh merasa senang sekarang dan bisa tidur tenang saat banjir rob besar melanda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemprov Jateng