Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 28 JANUARI 2026 • 11:10 WIB

Tingalan Jumenengan Mangkunegara Ke-4. Mangkunegara Akan Lestarikan Budaya Mengikuti Perkembangan Zaman

Tingalan Jumenengan Mangkunegara Ke-4. Mangkunegara Akan Lestarikan Budaya Mengikuti Perkembangan ZamanPersiapan Upacara adat (DOK/Humas Pemprov Jateng)

JATENG - Mangkunegara pada Selasa (27/01/2026) memperingati masa kepemimpinan yang ke-4 dari Mangkunegara X atau yang dikenal Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA).

Menjabat sejak tahun 2022, di masa kepemimpinanya Mangkunegara mempunyai misi untuk tetap melestarikan budaya yang telah ada sejak lama, namun masih tetap dapat diterima dimasa sekarang.

Dalam upacara peringatan ini, banyak tokoh-tokoh penting yang hadir untuk melihat bagaimana tradisi yang telah lama terbentuk, dapat lestari dimasa digital seperti sekarang ini.

Baca juga: Tiga Tahun Menunggu, Pasar Ikan Rejomulyo Semarang Akhirnya Diresmikan

Beberapa tokoh penting tersebut diantaranya Sekda Jateng, Sumarno dan Wapres Gibran Rakabuming Raka.

Rangkaian upacara yang sering disebut Tingalan Jumenengan menjadi agenda sakral yang rutin digelar setiap tahun. Tingalan Jumenengan merupakan peringatan tahunan atas hari naik takhta penguasa Mangkunegaran. Kata tingalan berarti peringatan, sementara jumenengan berasal dari kata jumeneng yang berarti bertakhta.

Sejarah Singkat

Kerajaan Mangkunegara, atau yang akrab dikenal Kadipaten Mangkunegaran berdiri pada 1757, ini merupakan kerajaan yang sampai kini masih tetap mempertahankan budaya leluhurnya.

Terletak di Jalan Ronggowarsito, Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah. 

terbentuk pada tanggal 17 Maret 1757 atau tepatnya setelah Perjanjian Salatiga yang ditandatangani oleh Susuhunan Paku Buwana III dan Raden Mas Said (nama lahir dari K.G.P.A.A. Mangkoenagoro I) dengan disaksikan oleh Patih Danurejo sebagai perwakilan dari Sri Sultan Hamengku Buwono I dan VOC.

Berdasarkan perjanjian tersebut, K.G.P.A.A. Mangkoenagoro I berhak memerintah di wilayah Kaduang, Nglaroh, Matesih, Wiroko, Haribaya, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Kedu, dan Pajang sebelah utara dan selatan.

Baca juga: Gus Yasin Sebut 97,25 Persen Desa di Jateng Sudah Punya BUMDes

Setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menyatakan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, Mangkunegaran di bawah kepemimpinan K.G.P.A.A.

Mangkoenagoro VIII menyatakan bergabung dengan NKRI pada 1 September 1945, lantas direncanakan memiliki daerah otonomi khusus bersama dengan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Namun meletusnya revolusi sosial di Surakarta pada tahun 1945-1946, telah mengakibatkan Mangkunegaran kehilangan kedaulatannya. Akan tetapi, Mangkunegaran masih tetap menjalankan fungsinya sebagai penjaga budaya hingga saat ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tingalan Jumenengan Mangkunegara Ke-4. Mangkunegara Akan Lestarikan Budaya Mengikuti Perkembangan Zaman

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!